Menurunkan gula darah dengan berpuasa

Menurunkan gula darah dengan berpuasa -Tujuan utama berpuasa memang dalam rangka menjalankan ibadah. Namun, secara kejiwaan ternyata efek sampingannya justru positif, bagi yang tak mempunyai problem serius dengan kesehatan. Misalnya, sedang menderita sesuatu penyakit fisik yang tidak boleh meninggalkan makan dan minum atau harus selalu minum obat. Membahas fenomena puasa yang pada mulanya merupakan proses rohaniah, spiritual, dengan tujuan memenuhi kewajiban agama, jelas tidak mungkin diukur dengan kriteria empirik keilmuan.

Namun demikian, dari sisi ilmu pengetahuan yang empirik, ternyata terdapat sisi-sisi yang cukup menarik untuk dibicarakan. Puasa dapat menurunkan kadar gula darah, kolesterol dan mengendalikan tekanan darah. Itulah sebabnya, puasa sangat dianjurkan bagi perawatan mereka yang menderita penyakit diabetes, kolesterol tinggi, kegemukan dan darah tinggi. Tentu saja atas pertimbangan dokter. 

Dalam kondisi tertentu, seorang pasien bahkan dibolehkan berpuasa, kecuali mereka yang menderita penyakit-penyakit diabetes mellitus, jantung koroner dan batu ginjal. Jaga Perut Puasa dapat menjaga perut yang penuh disebabkan banyak makan dan ini adalah penyebab utama kepada bermacam-macam penyakit khususnya obesitas, hiperkolesterol, diabetes dan penyakit yang diakibatkan kelebihan nutrisi lainnya. 

Saat puasa, terjadi perubahan dan konversi yang massif dalam asam amino yang terakumulasi dari makanan.
Pola makan saat puasa dapat mensuplai asam lemak dan asam amino penting saat makan sahur dan berbuka. Secara sederhana dapat digambarkan, terbentuklah tunastunas protein, lemak, fosfat, kolesterol dan lainnya untuk membangun sel baru dan membersihkan sel lemak yang menggumpal di dalam hati.

Penghentian konsumsi air selama berpuasa, sangat efektif meningkatkan konsentrasi air kencing dalam ginjal. Dalam keadaan tertentu hal ini akan memberi perlindungan terhadap fungsi ginjal. Kekurangan air sewaktu berpuasa, ternyata dapat meminimalkan volume air dalam darah. Kondisi ini akan memacu kinerja mekanisme lokal pengatur pembuluh darah dan menambah prostaglandin. Hal ini akhirnya memacu fungsi dan kerja sel-sel darah merah. 

Kekebalan Tubuh Puasa juga dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh.
Penelitian menunjukkan bahwa saat berpuasa terjadi pengikatan sel-sel limfosit hingga sepuluh kali lipat. Pengaruh kejiwaan juga berperan penting sebagai pencetus atau pemberat penyakit, namun juga dapat merupakan peringan atau justru membantu menyembuhkan sesuatu penyakit fisik. Padahal kita tahu bahwa orang berpuasa bukan hanya menahan lapar dan haus. 

Berpuasa menghasilkan kemampuan menahan diri terhadap rasa amarah, iri, dengki, di samping dorongan seksual. Rasa ini akan menimbulkan ketenangan jiwa terhadap orang yang bersangkutan. Hal menarik yang seakan-akan merupakan keajaiban ini ada dasar ilmiahnya. Salah satu sisi menarik tersebut adalah timbulnya ketenangan jiwa, rasa senang dan bahagia sewaktu menjalankanm ibadah puasa.

Apabila ditelaah lebih mendalam, segala sesuatu yang tidak diperbolwehkan dalam waktu tertentu selama berpuasa, misalnya makan, minum dan bersanggama, sasarannya adalah jiwa manusia yang disebut id. Id merupakan bagian jiwa manusia yang memberikan dorongan kepada manusia, terletak di alam tidak sadar, yang disebut pula naluri, nafsu. Dalam hal ini nafsu tersebut dikekang atau dikendalikan.

Manusia dilatih untuk mengendalikan diri, menahan nafsu sewaktu berpuasa. Latihan kedisiplinan rohani dan jasmani ini dimaksudkan untuk mencapai keseimbangan hidup. Di kala lapar dan dahaga sepanjang hari, tiada orang yang mengawasi kejujuran dan kedisiplinan kita. Tiada seorang pun yang mengetahui pelanggaran yang akan diperbuat, tetapi tetap bertahan sampai buka puasa tiba. 

Penyakit Muncul Makan dan minum di saat lapar dan dahaga memuncak, yakni saat berbuka puasa, maka rasa syukur pun akan terpanjat kehadirat- Nya. Seakan-akan Sang Khalik terasa begitu dekat. Sekaligus akan terasa adanya kesejukan kalbu, terbentuk suasana muthmainah atau ketenangan jiwa. Salah satu aspek kejiwaan yang lain adalah rasa bersyukur.

Ketidakpuasan terhadap sesuatu yang telah diperoleh sebenarnya karena tiadanya rasa syukur, sehingga timbul ketidakpuasan dan ketidaktenteraman jiwa, hidup diliputi stres emosional. Dalam hal ini berbagai penyakit mudah muncul, yang terkait dengan psikosomatis atau keluhan dan gangguan fungsi tubuh akibat faktor psikologis. Dalam kaitan ini, pernyataan Shirley Ross dalam buku Fasting the Super Diet (1978) sering dikutip. 

Katanya, berpuasa sebenarnya bukan sekedar menahan lapar dan dahaga, tetapi ada suatu mekanisme yang tidak disadari oleh orang yang berpuasa sendiri. Dalam hal ini, pertukaran dari sistem metabolisme eksternal menjadi sistem metabolisme internal. Pada sistem ini badan justru bekerja lebih giat karena harus mengatur sendiri dan tidak tergantung pada sumber energi yang masuk. Sistem demikian berpengaruh pada otak, sehingga rasa lapar justru menimbulkan rasa senang dan bahagia. (Prof Dr dr Anies MKes PKK-12)

Anda Butuh Solusi Diabet dan Gula Darah ?