Waspadai Glaukoma dengan Pemeriksaan Dini

Tujuh puluh lima persen informasi yang didapatkan berasal dari indera penglihatan. Walaupun mata merupakan organ kecil, sangat penting bagi keberlangsungan hidup. Angka kebutaan di Indo­nesia merupakan yang tertinggi di Asia Tenggara. Glaukoma merupakan penyebab kebutaan tertinggi kedua setelah katarak. 

Berbeda dari katarak, kebutaan oleh karena glaukoma tidak dapat diperbaiki.
Hal itu disampaikan oleh dok­ter spesialis mata, Maharani Cahyono, Jumat (14/3). Glau­ko­ma merupakan sua­tu penyakit yang ditandai de­ngan adanya kerusakan pada saraf mata yang jika tidak ditangani dapat menyebabkan ke­bu­taan permanen.

Jangka Panjang

Orang yang memiliki risiko glaukoma, lanjutnya, antara lain usia lebih dari 40 tahun, mempunyai riwayat keluarga men­derita glaukoma, penderita diabetes mellitus, penderita migrain (nye­ri kepala sebelah), pemakai ka­camata tebal (minus tinggi), dan pengguna obat-obat yang mengandung steroid jangka panjang.
Sebagian pasien, katanya, mengeluhkan mata tiba-tiba merah, nyeri, penglihatan bu­ram, melihat pelangi di sekitar lampu yang menyala, mual bah­kan sampai muntah. 

Hal itu me­rupakan gejala glaukoma. Na­mun, sebagian besar pasien ti­dak ada keluhan apa pun se­hingga dia tidak menyadari bah­wa hal glaukoma sedang me­nyerang. Tipe glaukoma se­perti itu yang disebut sebagai “si pencuri penglihatan”. Sebab, bia­sa­nya pasien datang berobat da­lam keadaan glaukoma stadium lanjut.

Glaukoma tidak dapat dihindari atau dicegah, tetapi kebutaan oleh karena glaukoma da­pat dicegah dengan diagnosis di­ni dan penatalaksanaan yang te­pat.Kerusakan saraf mata yang telah terjadi harus dihenti­kan dengan cara menurunkan te­kanan bola mata, baik dengan obat-obatan maupun dengan laser atau operasi, sehingga kerusakan yang telah ada tidak bertambah parah

Anda Butuh Solusi Diabet dan Gula Darah ?