Kanker Pankreas Ganas yang Serang Steve Jobs

Kanker pankreas paling ganas dan berbahaya -STEVE Jobs akhirnya “menyerah” hari ini di tangan penyakit kanker pankreas ganas. Bagaimana gambaran penyakit ini hingga menyebabkan kematian?

Di tangan dingin Steve Jobs, Apple menjadi perusahaan yang disegani di seluruh dunia. Nama Steve sendiri tercatat sebagai orang yang berpengaruh di dunia teknologi, salah satunya tokoh di balik kesuksesan iPhone, iPad, dan iPod. Namun, kreativitas dan kejeniusan Steve harus berhenti hari ini.

Anti Aging Lifestyle Doctor dr Phaidon L Toruan memberikan ulasannya tentang kanker pankreas yang didapat dari Sol Goldman, John Hopkins Medical Center dan WebMD. Ulasan sekaligus menjadi bagian dari buku “Loss not Weight Loss Diabetes” yang tidak lama akan dirilisnya.

“Kesehatan Steve Jobs menjadi menarik buat saya amati karena harga stok saham Apple dipengaruhi oleh rumor kesehatan Steve, misalnya ketika Steve tampak tidak sehat di suatu acara MacWOrld di tahun 2009, Steve mengatakan dirinya ‘berada dalam ketidakseimbangan hormon’. Lalu, ketika dia mengumumkan akan menjalani perawatan, harga saham Apple turun. Setiap saat beredar rumor, baik asli atau palsu soal kesehatan Steve, maka harga saham akan turun,” tulis dr Phaidon dalam rilisnya, Kamis (6/10/2011).

Steve Jobs diketahui menderita kanker pankreas. Pankreas adalah kelenjar yang berbentuk tube, sekira 15 cm yang terletak di perut bagian belakang. Tugas utamanya bagi tubuh manusia adalah menghasilkan enzim yang membantu usus memecah makanan dan memproduksi hormon yakni insulin yang membantu regulasi gula darah.

Kanker pankreas merupakan penyebab keempat kematian kanker, baik pria dan wanita, serta salah satu  kanker yang paling mematikan, bahkan kalangan medis menamakannya “silent killer”.

Kanker ini sebetulnya dapat ditatalaksana kalau ditemukan di tahap awal, akan tetapi masalah kanker ini adalah kesulitan mendiagnosa gejala pada tahap awal. Seiring semakin besarnya pertumbuhan kanker, nyeri di perut bagian atas kiri akan semakin terasa yang menyebar ke belakang. Rasa nyerinya semakin menjadi saat makan atau berbaring. Gejala lain yang tampak adalah jaundice alias kuning.

Kemampuan bertahan hidup selama 5 tahun adalah 25 persen bila kanker dioperasi dan diangkat saat masih kecil dan belum menyebar. Faktor risiko kanker pankreas dibagi atas faktor yang tidak bisa dikontrol, meliputi faktor genetik, keturunan Yahudi Ashkenazi, dan mengalami mutasi genetik BRCA. Sementara, faktor risiko usia di atas 50 tahun, perokok berat, diabetes, lain-lain seperti penyakit hati kronis, obesitas, dan kurang olahraga.

Faktor penuaan memang tidak dapat dikontrol, tetapi usia tubuh dapat dikembalikan. Salah satunya dengan melakukan terapi hormon yang komprehensif, seperti pernah dibahas di Indonesia Wellness Anti Aging Conference di Hotel Gran Melia, Jakarta, 28 September-1 Oktober 2011.

“Saya sangat menaruh perhatian pada masalah rokok. Menurut John Hopkins, rokok adalah salah satu faktor penyebab kanker pankreas, dan seperti kita ketahui, konsumsi rokok di negeri ini sangat besar,” tambahnya.

Akibat merokok lebih dari sekadar kanker paru-paru. Kematian dini yang diakibatkan dari rokok lah yang perlu dikhawatirkan. Kematian dini berarti kehilangan talenta berharga yang dibutuhkan perusahaan, instansi, dan negeri ini untuk maju.

Sementara penderita kanker pankreas, 10-20 persennya adalah penderita diabetes. Diabetes adalah fakor risiko yang dapat dikelola dengan gaya hidup sehat. Kata kunci diabetes adalah faktor keturunan dan gaya hidup. Faktor keturunan tentunya tidak dapat diubah, akan tetapi gaya hidup selalu bisa dimodifikasi.

dr Phaidon menjelaskan, beberapa faktor risiko pencetus diabetes adalah overdosis gula, yang menyebabkan kelelahan pankreas, dan makanan kaya lemak, khususnya lemak trans yang terdapat di dalam minyak sawit dan dijual di berbagai fast food. Konsumsi keduanya diperkuat oleh monosodium glutamat alias vetsin, yang memperkuat rasa.

Namun kalau ditelusuri, kita perlu berpikir kritis, apa yang mendorong orang suka makanan cepat saji, yang pada akhirnya menyebabkan diabetes. Salah satunya adalah stres (seperti kondisi Steve Jobs), baik berupa stres pekerjaan, stres hubungan romantis, maupun stres finansial.

“Salah satu solusi sebetulnya adalah mencari solusi atas stres ini, baru mengajarkan gaya hidup sehat. Artinya, yang perlu diubah adalah mindset-nya, baru ditunjukkan caranya dan diberi contoh bagaimana melakukannya,” ujar dr Phaidon.

Semua perusahaan, ditandaskan trainer kesehatan ini, sebaiknya membuat pelatihan perubahan mindset hidup sehat. Karena kalau lalai, bisa memberi dampak bagi kekuatan tim secara keseluruhan, khususnya bila yang terkena dampak adalah eksekutif di posisi tinggi seperti Steve Jobs.

Baik merokok atau diabetes untuk mengubah gaya hidup diperlukan lebih dari sekedar himbauan. Akan tetapi perlu pengkondisian sebab yang diperlukan adalah perubahan mindset. Perubahan perilaku, yang selama ini digembar-gemborkan, tidak akan memberi hasil apapun tanpa perubahan mindset.

“Kalau organisasi masih menginginkan perubahan untuk meningkatkan kinerja, sudah saatnya ‘corporate health strategy’ menjadi salah satu ‘competitive advantage’ yang diterapkan di perusahaan. Mengubah mindset, mengubah perilaku sehingga mengubah hasil. Dengan demikian kita bisa mengurangi risiko kehilangan terlalu dini orang bertalenta tinggi, seperti Apple kehilangan Steve Jobs,” tukasnya.

Anda Butuh Solusi Diabet dan Gula Darah ?