Kadar gula darah tidak normal ancam stroke

Kadar gula darah tidak normal ancam stroke -SIAPA tak kecut membayangkan stroke. Ia dapat membuat orang segar tiba-tiba ambruk, layu, dan kadang fatal kesudahannya. Celakanya, stroke boleh disebut mengancam siapa saja. Ia tercatat sebagai ''agen pembunuh'' nomor tiga di dunia, setelah infeksi saluran pernapasan bagian atas dan jantung koroner.

Kekhawatiran orang terhadap stroke memang beralasan. Sasarannya otak, organ paling penting dalam tubuh manusia. Otaklah yang mengontrol segala aktivitas tubuh, termasuk denyut otot jantung, metabolisme, bahkan perilaku dan emosi manusia.

Seperti penyakit jantung, stroke antara lain disebabkan penyumbatan pembuluh darah. Dokter menyebutnya stroke iskemia. Plak yang menempel pada dinding pembuluh darah otak atau di leher itu biasanya makin lama makin tebal. Aliran darah ke otak pun terhambat.

Padahal, darah diperlukan oleh otak. Darah yang mengandung oksigen serta gula darah mutlak diperlukan bagi kehidupan sel-sel saraf di batok kepala manusia. ''Dari darah yang mengalir ke seluruh tubuh, 20%-nya mengalir ke otak,'' kata Dokter Daldiri Mangundiwirjo, neurolog pada Rumah Sakit (RS) Dokter Soetomo, Surabaya.

Jika kekurangan pasokan oksigen dan gula darah, sel saraf bakal mati. Sayangnya, sel-sel saraf yang apkir itu tidak bisa digantikan oleh sel-sel baru. Berbeda dengan organ lain, sel saraf otak tak mengalami regenerasi.

Selain penyumbatan, stroke juga bisa disebabkan pendarahan di otak, atau lebih dikenal stroke hemoragik. Itu terjadi karena pembuluh darah di otak sudah rusak dan kaku. Lemak dan usia menua membuat pembuluh darah tak lagi elastis. Maka, begitu tekanan darah tiba-tiba meninggi, pembuluh darah tak bisa merenggang. ''Darah keluar dari pembuluh dan langsung menggumpal,'' ujar Muhammad Naharuddin Jenie, ahli penyakit saraf RS Kariadi, Semarang.

Gumpalan darah lalu menekan pembuluh darah otak. Sel saraf atau bagian otak yang biasanya mendapat pasokan dari pembuluh tak kebagian darah. Sel otak mati. Stroke hemoragik ini biasanya ditandai dengan gejala klinis, antara lain, kepala terasa nyeri hebat dan leher kaku.

Kedua jenis stroke timbul karena berbagai sebab. Menurut Dokter Hardhi Pranata, neurolog pada RS Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto, Jakarta, dipicu oleh berbagai faktor risiko. Ia menyebut hipertensi (tekanan darah tinggi), kencing manis, dan kolesterol tinggi. Orang yang memiliki tekanan darah di atas 90 mm Hg/140 mm Hg berpeluang terkena stroke tiga kali lebih besar dibandingkan dengan mereka yang normal. Stres, kurang olahraga, doyan merokok, juga dianggap pemicu lain (lihat tabel).

Di luar faktor pemicu tadi, ada faktor lain yang tidak dapat dikontrol manusia: umur, jenis kelamin, dan ras. Orang berusia lanjut berisiko kena stroke lebih besar, karena pembuluh darahnya tak lagi lentur akibat gejala degenerasi. Namun, tutur Hardhi, degenerasi sebenarnya mulai muncul sejak orang berusia 10 tahun.

Secara statistik, pria terkena stroke lebih awal ketimbang wanita. Ini karena hormon estrogen menjadi pelindung wanita. Umumnya, wanita baru kena stroke bila mendekati menopause, atau di atas 50 tahun. Pada umur itu, wanita tak lagi memproduksi estrogen. Agar terhindar risiko stroke, wanita manula mengonsumsi dehydroepiandrosterone (DHEA), sejenis hormon seks yang diproduksi kelenjar adrenalin di bawah anak ginjal, fungsinya mirip mirip dengan estrogen. Belakangan, pria pun ikut-ikut melahap DHEA.

Ditinjau dari segi ras, penghuni alam tropis Asia berpeluang kena stroke hemoragik, pendarahan otak. Cuaca panas membuat darah bersirkulasi lebih cepat. Celakanya, orang Asia suka makanan berbumbu garam, yang cepat mengatrol tekanan darah.

Jumlah dan ragam faktor pemicu itu mempengaruhi daya serang stroke. Ada yang ringan, ada pula yang berat. Biasanya, ada tiga tahap stroke yang dilalui pasien. Fase pertama disebut stroke ringan. Para dokter saraf menyebutnya iskemia sepintas. Serangannya berupa penyempitan pembuluh darah sekonyong-konyong. Gejalanya, antara lain, badan lemas dan tubuh terasa kaku sebagian. Keluhan ini hanya terasa selama 24 jam. Setelah itu, kondisi tubuh pasien pulih kembali.

Masalahnya, setelah pulih, sejumlah pasien tidak langsung memeriksakan diri ke dokter. Mereka beranggapan hanya faktor kelelahan. Padahal, tutur Hardhi Pranata, neurolog pada RS Angkatan Darat Gatot Soebroto, pemeriksaan pasca-stroke ringan itu sangat penting. ''Ini untuk menentukan pencegahan dini hingga tak kena serangan lagi,'' ujarnya. Pada pasca-stroke ringan, pasien harus segera diperiksa, di antaranya dengan computerized tomography scanning (CT-scan). Selain itu, mereka juga harus menjalani pengecekan darah terhadap risiko-risiko pemicu stroke.

Selang beberapa hari atau bulan, penderita bisa terkena serangan kedua. Kali ini, mereka kehilangan daya respons. Bengong, tak mampu menyampaikan maksud. ''Ini berlanjut ke tingkat kelumpuhan selama beberapa hari,'' kata Daldiri. Selain itu, tampak terjadi kelainan pada bibir pasien: bicaranya cadel. Pasien akan kembali pulih selepas satu-dua bulan.

Bila tak ketat mengatur pola makan dan gaya hidup, penderita bakal diserang lagi. Bisa lebih dahsyat. Pada tahap ketiga ini, penderita akan mengalami kelumpuhan tetap pada bagian kiri atau kanan tubuh. Ini sangat tergantung otak bagian mana yang diserang.

Menurut Muhammad Naharuddin Jenie, jika otak bagian kiri yang diserang, organ-organ tubuh bagian kanan yang lumpuh. Begitu pula sebaliknya. Selain itu, akan terjadi gangguan pada penglihatan dan pengucapan.

Sulit dipastikan, berapa kali batas seseorang kena stroke hingga ia tak sadarkan diri, atau malah fatal. Ini terpulang pada daya tahan fisik. Ada yang langsung pingsan pada serangan stroke pertama. Itu bisa terjadi jika perdarahan akibat stroke mengenai batang otak, bagian yang merupakan pusat kesadaran.

Lantas, bergantung juga pada letak pembuluh darah yang terganggu. Jika otak besar yang terkena, risikonya lebih berat. Sebab, 500 juta sel saraf, atau 70% sel saraf, menumpuk disana. Sel-sel saraf otak besar berhubungan dengan berbagai fungsi organ lain. Ambil contoh, bagian belakang otak dan korteks yang melapisinya menerima sinyal dari mata.

Korteks bagian depan mengatur kesadaran selain gerak tubuh. Sedangkan korteks sensorik yang terletak bagian bawah otak besar berhubungan dengan fungsi perasa lidah dan pipi (lihat bagan). Korteks sendiri ialah jaringan berwarna kelabu yang melapisi bagian luar otak besar, dan berkaitan dengan otak.

Toh, tak berarti stroke pada otak kecil lebih ringan gangguannya. Otak kecil juga sangat riskan bila terlanda perdarahan. Pasalnya, tutur Sumarmo Markam, ahli saraf pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, otak ini mengoordinasikan otot. ''Bila kena stroke, otot jadi tak terkontrol,'' katanya. Otak kecil juga yang mengatur emosi. Jika ia terkena, otak besar ikut terpengaruh, karena dua otak tadi merupakan satu kesatuan.

Tentu saja, stroke tidak cuma merusak organ gerak dan rasa. Stroke juga bisa mengganggu kejiwaan. Fungsi intelektual dan memori mungkin terganggu, meski pasien masih sadar. Misalnya, daya ingat menurun, pengenalan terhadap barang atau objek tertentu berkurang, serta bicara tidak jelas dan inkonsisten. ''Namun hal itu tak selalu terjadi pada setiap kasus stroke,'' kata Daldiri Mangundiwirjo.

Stroke juga mengganggu emosi dan nafsu, bila yang terlanda perdarahan adalah sistem limbik. Harap dicatat, sistem limbik ini tersebar di sejumlah bagian otak. Salah satunya ada pada amygdaloid, organ yang terletak di bagian bawah otak besar.

Karena itu, Ayub Sani Ibrahim, psikiater pada RS Pondok Indah, Jakarta Selatan, menduga bahwa pasien stroke bisa mengalami depresi. Mereka merasa terpukul. Semula pasien sehat dan mampu mengerjakan sesuatu. ''Setelah terkena stroke, ia tak bisa berbuat apa-apa lagi,'' kata Ayub. Penderita cenderung mengurung diri di kamar. Atau malah ingin bunuh diri. Tapi, menurut Ayub, hanya 25%-30% pasien yang begitu.

Jadi, kalau ingin lepas dari stroke, lepaskan faktor pemicu dan hiduplah dengan cara sehat. Selanjutnya, serahkan diri pada takdir

Anda Butuh Solusi Diabet dan Gula Darah ?